Mereka
tentu sama namun berbeda
Terkadang memang tak mudah untuk membedakan sumber
cinta maha dahsyat yang mengalir dari setiap tannda cintanya, ibu dan ayah.
Saat memberikan aplikasi cinta itu pun tentu berbeda. Ibu, mungkin dengan
lembut lisannya, kemudian ayah mungkin dengan pantauan rahasianya yang
sebenarnya keduanya harapkan hal yang sama, BAHAGIAKU.
Bukankah saat
hadirnya kita di dunia telah terbagi cinta ibu yang hanya untuk ayah? Juga
begitu pun sebaliknya, ayah harus membagi cintanya pada ibu karena hadirnya bintang
kecil memesona hati itu? Tak harus ditanya, “sayangkah kau padaku ibu, ayah?”,
cinta mutlak hadir dari mereka tanpa meminta balas jasanya. Ibu, ia tak meminta
kita harus menahankan rasa sakit melahirkan itu untuknya, Tak jua meminta kita
untuk menjaganya saat malam tiba. Ayah, ia tak meminta kita bekerja untuk ganti
keringat lelah yang ia persembahkan
untuk hidup kita, apalagi mengganti segala biaya hidup kita selama ini. Bahkan
banyak hal yang seharusnya tak terlalu pentingpun diikhlaskan untuk buat kita
bahagia.
Tapi,
saat harus bercerita tentang perbedaan mereka, adakah yang bisa menjawabnya?
Rasulullah SAW dalam kisahnya memperjelas kedudukan ibu 3 tingkat lebih tinggi
dari ayah. Ibu, ibu, ibu, dan kemudian ayah. Tapi justru ini yang kerap kali
membuat kita juga mengenyampingkan pengorbanan seorang ayah. jujur, saya sangat
suka dengan hadis tersebut. Pengorbanan
dan perjuangan seorang ibu memang tiada tandingannya di dunia ini. Darinyalah
lahir setiap insan di muka bumi ini, rasa sakit di halau, rasa kantuk pun jua,
untuk satu kehidupan putra-putrinya tercinta. Namun, juga tak ada salahnya jika
kita harus mengingat kembali pengorbanan ayah di saat yang sama ibu merasakan
sakit itu. Saat ibu mengandung kita
dalam payah, ayahlah yang menggantikan posisi ibu untuk membersihkan rumah,
mencuci pakaian, memasak, dan yang lainnya, walau harus membagi waktu kerjanya
untuk menafkahi istri dan calon bayinya nanti. Dan tahukah kita sobatku
terkasih, itu semua ia lakukan untuk hidup kita sayang, juga saat ibu mendera
rasa sakit yang maha dahsyat ketika melahirkan kita ke dunia ini, ayahlah yang
mendampingi ibu, yang menyemangatinya agar ibu tetap kuat untuk itu, ayahlah
yang mengenggam kuat tangan lemah itu untuk memberi kekuatan baru pada ibu,
meski tak jarang cakaran demi cakaran dihujani ibu pada ayah dalam ketidak
sadaran itu. Saat kita lahir, ayahlah
yang pertama kali ingin menyentuh kita dan bersujud pada Allah atas
kelahiran kita, juga tak lupa mengadzankan kalimat-kalimat Allah tepat di sisi
teinga kita, yang dalam hatinya terus berdoa agar kelak kita jadi yang terbaik
uuntuknya, untuk ibu, agama dan bangsa.
Tahukah kita itu sahabat??? Mari kita tanyakan kembali pada hati ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar