Sabtu, 22 Oktober 2011

Satu paket milikku, Ayah dan Ibu


Mereka tentu sama namun berbeda

                  Terkadang memang tak mudah untuk membedakan sumber cinta maha dahsyat yang mengalir dari setiap tannda cintanya, ibu dan ayah. Saat memberikan aplikasi cinta itu pun tentu berbeda. Ibu, mungkin dengan lembut lisannya, kemudian ayah mungkin dengan pantauan rahasianya yang sebenarnya keduanya harapkan hal yang sama, BAHAGIAKU.
Bukankah saat hadirnya kita di dunia telah terbagi cinta ibu yang hanya untuk ayah? Juga begitu pun sebaliknya, ayah harus membagi cintanya pada ibu karena hadirnya bintang kecil memesona hati itu? Tak harus ditanya, “sayangkah kau padaku ibu, ayah?”, cinta mutlak hadir dari mereka tanpa meminta balas jasanya. Ibu, ia tak meminta kita harus menahankan rasa sakit melahirkan itu untuknya, Tak jua meminta kita untuk menjaganya saat malam tiba. Ayah, ia tak meminta kita bekerja untuk ganti keringat lelah yang ia  persembahkan untuk hidup kita, apalagi mengganti segala biaya hidup kita selama ini. Bahkan banyak hal yang seharusnya tak terlalu pentingpun diikhlaskan untuk buat kita bahagia.
            Tapi, saat harus bercerita tentang perbedaan mereka, adakah yang bisa menjawabnya? Rasulullah SAW dalam kisahnya memperjelas kedudukan ibu 3 tingkat lebih tinggi dari ayah. Ibu, ibu, ibu, dan kemudian ayah. Tapi justru ini yang kerap kali membuat kita juga mengenyampingkan pengorbanan seorang ayah. jujur, saya sangat suka dengan  hadis tersebut. Pengorbanan dan perjuangan seorang ibu memang tiada tandingannya di dunia ini. Darinyalah lahir setiap insan di muka bumi ini, rasa sakit di halau, rasa kantuk pun jua, untuk satu kehidupan putra-putrinya tercinta. Namun, juga tak ada salahnya jika kita harus mengingat kembali pengorbanan ayah di saat yang sama ibu merasakan sakit itu. Saat  ibu mengandung kita dalam payah, ayahlah yang menggantikan posisi ibu untuk membersihkan rumah, mencuci pakaian, memasak, dan yang lainnya, walau harus membagi waktu kerjanya untuk menafkahi istri dan calon bayinya nanti. Dan tahukah kita sobatku terkasih, itu semua ia lakukan untuk hidup kita sayang, juga saat ibu mendera rasa sakit yang maha dahsyat ketika melahirkan kita ke dunia ini, ayahlah yang mendampingi ibu, yang menyemangatinya agar ibu tetap kuat untuk itu, ayahlah yang mengenggam kuat tangan lemah itu untuk memberi kekuatan baru pada ibu, meski tak jarang cakaran demi cakaran dihujani ibu pada ayah dalam ketidak sadaran itu. Saat kita lahir, ayahlah  yang pertama kali ingin menyentuh kita dan bersujud pada Allah atas kelahiran kita, juga tak lupa mengadzankan kalimat-kalimat Allah tepat di sisi teinga kita, yang dalam hatinya terus berdoa agar kelak kita jadi yang terbaik uuntuknya, untuk ibu, agama dan bangsa.  Tahukah kita itu sahabat??? Mari kita tanyakan kembali pada hati ini.